Tickling Dragon Under the Illuminated Dawn: 2010 Quidditch World Cup

Harry Potter © J.K. Rowling

I don’t care if you fall off your broom as long as you catch the Snitch first.

Piala Dunia Quidditch adalah salah satu ajang bergengsi yang paling ditunggu oleh seluruh masyarakat sihir, tak terkecuali Yoongi, Hoseok, Namjoon, Jimin, Taehyung dan Jungkook. Mereka bahkan sudah merencanakan hal ini sejak dua tahun sebelumnya; menabung dan saling membantu demi mewujudkan keinginan nonton bareng langsung di tempat kejadian. Berkat ayah Taehyung, misalnya, mereka berhasil mendapatkan salah satu tempat terbaik dalam stadion. Lalu keluarga Namjoon yang meminjamkan tenda cadangan untuk Yoongi dan Jimin. Hoseok yang mendapat koneksi dari kakak perempuannya, Jiwoo, jurnalis kolom olahraga Daily Prophet, untuk beberapa fitur premium. Juga Jungkook, yang berhasil dibebaskan dari Busan dengan merayu kakak laki-lakinya yang juga anggota Tim Nasional Pelajar Quidditch Jepang untuk ikut menonton.

Tak ada yang mampu menghapus senyuman keenamnya kala mereka mengitari lapangan oval di dasar lembah Himalaya menuju barisan anak tangga yang dikerubuti ribuan orang sembari menjinjing barang mereka masing-masing: omnicular, vuvuzela, buku pertandingan, tongkat sihir mainan yang bisa mengeluarkan bintang-bintang merah dan biru, serta peralatan mendukung tim Cina untuk Jungkook, Yoongi dan Namjoon, serta Moldova untuk sisanya. Suasana tambah memanas seiring berjalannya waktu dan kini stadion sudah dipenuhi oleh teriakan, obrolan berbagai bahasa, ensembel marching band, juga perkusi khas oriental.

Setidaknya ada dua ratus kursi berjajar pada boks ketiga teratas; cukup sempit, tapi memberikan jarak pandang bagus untuk menyaksikan empat belas pemain nasional Moldova dan Cina terbang di lapangan. Obrolan dan tawa menguar di setiap langkah, tak peduli kesulitan mereka melompati dan—khusus Namjoon—menyenggol beberapa penyihir eksentrik yang sebagai respons memberikan lirikan sebal. Antusiasme grup mereka meledak-ledak; Yoongi belum menghilangkan senyum gusinya seharian penuh, sementara lebih lebar sedikit lagi, mungkin bibir Hoseok akan robek.

Dan mari akui saja; bilapun dunia hancur malam ini, keenamnya tidak akan menyesal sebab mereka akan mati puas dan bahagia.

Sesuai tiketnya, Namjoon mengambil bangku paling pojok, dekat papan bertuliskan aksara Cina (害人之心不可有[1]), diikuti Jungkook, Taehyung, Jimin, Hoseok dan Yoongi, yang kedapatan tempat di samping sepasang penyihir Rusia. Layar raksasa di mereka masih menggonta-ganti tulisannya dengan iklan berbagai produk, sementara para panitia melakukan persiapan terakhir di dasar lapangan dan beberapa lagi terbang ke masing-masing sudut untuk memastikan bahwa semua sudah siap.

“Sayang sekali Seokjin harus melewatkan ini.” Hoseok berteriak dari tempatnya menyaingi keributan setelah mereka semua berhasil mendapat posisi ternyaman. Untung suaranya begitu keras, hingga Namjoon yang berada paling jauh tidak perlu bertanya ulang. “Kalau aku jadi dia, aku akan mengambil cuti dari magangku sebentar lalu kembali ke New York saat pertandingan selesai.”

“Tempat magangnya punya jadwal sangat ketat.” Jungkook mengangkat kameranya, mulai membidik kesibukan di sekitar mereka. Benda itu adalah salah satu barang sihir berteknologi paling mutakhir; si fotografer bisa melihat dulu hasilnya seperti apa, jadi tidak harus buang-buang film—meskipun tidak secanggih kamera digital milik muggle, sih. “Dia juga sangat terpukul kemarin; menyuruhku mengambil semua gambar yang bisa diambil dan meminta hasilnya saat sudah kembali.”

“Dia akan kembali dua hari sebelum tanggal 1, ‘kan?” Yoongi bertanya sambil memasang syal bermotif naga yang baru ia beli di perkemahan beberapa menit yang lalu. Udara semakin dingin kendati area dalam stadium sudah disihir untuk tidak sedingin dataran bersalju di luar sana. Untung keluarga yang membangun tenda di depan milik Yoongi dan Jimin memproduksi syal-syal wol yang rajutannya bisa disesuaikan dengan keinginan si pembeli.

Yes, if I’m not mistaken.”

“Bukannya minggu depan? Tapi kukira dia sudah selesai sebelum—whoa, Hoseok!” Jimin bersiul nyaring, langsung melupakan topik tentang Seokjin begitu menemukan sebuah figur familier di seberang lapangan dengan omnicular-nya. O, dasar teman tidak tahu diuntung. “Tebak siapa yang baru saja memberiku jari tengah.” Dengan bar-bar, disenggolnya bahu Hoseok, komplet dengan sebuah seringai menggoda.

Hoseok sontak merebut teropong Beater-nya, kemudian ikut mengintip. Sejurus kemudian ia tertawa keras-keras. Dan tidak—dugaan soal mulut robek si Kapten Quidditch Hufflepuff tadi mesti dihapus karena nyatanya senyum Hoseok masih bisa melebar lebih jauh lagi. Mungkin kini jangkauannya setara luas Laut Cina Selatan. “Ha, kejutan bagus. Kukira dia tidak datang.”

Taehyung mendenguskan kekehan geli. “Mana mungkin dia tidak datang, Seok. Dia ‘kan sama maniaknya dengan kau.”

Sang lawan bicara tak merespons ujaran Taehyung. Entah apa yang dilakukan gadis di ujung sana sampai si Kapten memilih melepas tatapannya dan melambaikan tangan lebar-lebar. Detik berikutnya, sikunya menyenggol kening Yoongi keras. Diimpit keadaan penuh refleks, sang korban mendorong Hoseok menjauh—membuatnya nyaris terjungkal dari kursi.

Tak ingin menanggapi tingkah memalukan si tertua Hufflepuff, dua pemuda yang duduk di sisi paling kanan memilih sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Jungkook memutar bola mata, sementara Namjoon membuka bungkus pertama Keripik Kentang Cap Kucing Hitam yang ia curi dari adik perempuannya.

“Aku berani bertaruh pertandingan ini akan berlangsung lama.” Si Prefek Ravenclaw berkata; mengalihkan topik sembari memutar-mutar tubuhnya yang terasa pegal. Perlahan-lahan lingkungan di sekitar mereka semakin memadat. Hanya tersisa sekitar sepuluh sampai lima belas kursi di belakang keenamnya, sementara di bagian depan sudah penuh.

“Setuju.” Jungkook menanggapi tenang. Si termuda mengalihkan atensinya; keningnya berkerut, jeda sedikit, lalu ia berhasil mendapatkan foto bagus berupa sekumpulan panita yang sedang terguyur sinar keperakan dari lampu sorot. “Moldova dan Cina sama-sama tidak terkalahkan. Dan harus kuakui teknik Selam Dionisius si Vyacheslav Tcaci—Chaser tim Moldova—tak memiliki cela.”

I can’t wait to see it.”

“Dalam buku ini ditulis pasangan Beater Cina, Su Penghua dan Zhu Xiaolin, punya taktik Pertahanan Dopplebeater yang mematikan.” Alis Taehyung bersembunyi di balik poninya saat ia masuk dalam konversasi, membaca daftar acara yang salah satunya berisi fakta dan prestasi para pemain dari masing-masing negara. “Aku penasaran apakah aku bisa menganalisis tekniknya sebagai bahan belajar untuk pertandingan antarasrama musim depan.”

“Tentu kau harus belajar darinya, Tae! Kita akan latihan sangat intensif tahun ajaran ini karena aku sudah kelas enam dan itu artinya aku hampir pensiun dari tugas memimpin tim. Kau juga, Jim.” Hoseok, yang rupanya sudah selesai berdebat dengan Yoongi—yang terakhir yang menang—memilih ikut menanggapi. Dia ganti menyenggol bahu Jimin. “Kalian sudah bekerja sangat bagus tahun lalu, tapi kita harus terus berkembang. O, dan membayar kekalahan kita tahun kemarin.”

Dua Beater-nya, merasa salah langkah dengan membawa topik liga Quidditch Hogwarts, menutup wajah dengan telapak tangan sambil terkekeh setengah tak percaya. Iya, kita tunggu saja. Sebentar lagi bakal muncul ceramah panjang mengenai betapa pentingnya merebut kembali Piala Asrama setelah tahun kemarin mereka dikalahkan tipis oleh Gryffindor 310-290. Hoseok boleh saja terlihat tenang dan menerima kekalahan; tapi itu berarti determinasinya mengembalikan gelar akan naik, berikut keganasannya ketika melatih.

Mereka mesti bersiap-siap.

Tapi Jungkook, yang notabene menjadi pahlawan Gryffindor musim kemarin, langsung menoleh; mendengus sensitif seraya memasang air muka congkak nan provokatif. “Yeah, try us, Jung. Aku yang kemarin mengambil Snitch-nya—akan kuulang tahun ini—jadi jangan bermimpi tinggi-tinggi, nanti kau kecewa lagi.”

Bibir Hoseok langsung turun sebagai gestur tak puas dan terganggu.

Untung perbalahan itu tak berlanjut sebab suara menggelegar milik seorang komentator asal Tibet mengudara tepat saat seleret sinar matahari terakhir tenggelam di ufuk barat. Pria itu menyapa dengan bahasa ibunya, sehingga Yoongi, Hoseok, Jimin, Taehyung dan Jungkook harus memakan Toffee Penerjemah yang bisa membuat pengulumnya mengartikan seluruh bahasa asing selama lima jam. Namjoon? Ah, dia bisa paling tidak lima belas bahasa muggle (termasuk Mandarin) dan sedikit-sedikit bahasa manusia duyung.

“… datang di Final Piala Dunia Quidditch ke-246! Mari bersorak bersama-sama!”

Meski kehilangan setengah dari pembukaan, keenam pemuda tersebut ikut berdiri bersama seluruh penonton dalam stadion. Layar yang berisi pesan sponsor kini berganti menjadi bendera masing-masing negara; di bawahnya tercetak angka nol besar-besar. Lagu resmi Piala Dunia Quidditch 2010 bermain dan keriuhan semakin menggila. Tak ada yang tidak berteriak, sementara genta gong, simbal dan dagu—alat musik khas Cina yang bentuknya seperti gendang dan dipukul dengan dua stik berujung mirip bakpao—bersahut-sahutan dengan drum band yang menyanyikan mars pendukung tim Moldova.

“Tanpa berbicara lebih banyak lagi, dengan penuh hormat, saya persilakan maskot Moldova masuk ke lapangan!”

Tujuh wanita bergaun putih panjang dengan rambut hitam sepinggang memasuki lapangan. Kalau ada kata yang bisa digunakan untuk mendefiniskan impresi para wanita tersebut maka: memesona. Kulit mereka memantulkan cahaya bulan, bibir mereka merah dan matanya bercahaya secara harfiah. Ketujuhnya berputar di udara, kemudian berpencar dan mengeluarkan cahaya silver kebiruan mirip patronus. Seketika stadion hening dari teriakan, dan saat mereka menari, semua orang seperti kehilangan dirinya sendiri.

Taehyung memang kebal dengan pesona semacam itu karena dalam pembuluhnya masih mengalir darah mahkluk gaib paling cantik sedunia, namun Namjoon, memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengidentifikasi apa yang melayang di tengah lapangan, segera memalingkan wajahnya ke arah Jungkook yang kini memiliki pupil mata sebesar bokong Troll. Dia sampai harus memukul bagian belakang kepala si bungsu supaya pemuda itu tidak melangkahi seorang kakek yang duduk di depan mereka.

Tersadar, sang Seeker Gryffindor langsung mengerjapkan mata dan menunduk. Tangan kanannya menggosok-gosok kepalanya yang agak pusing lantaran semangat membara Namjoon dalam mewujudkan niat baiknya beberapa detik yang lalu.

What the heck was that?”

“Lele!” jawab Namjoon, melihat ke mana saja selain lapangan. “Lele; roh dari Rumania dan Moldova, punya efek mirip Veela—bedanya, mereka tidak bernyanyi; mereka menari. Jadi, asal kau tidak melihat ke arah mereka, atau digoda secara langsung, kau akan aman—hei, hei! Tae! Tolong kondisikan tiga orang tolol di sebelah sana sebelum mereka benar-benar meliur!”

Di sisi kiri, Yoongi, Hoseok dan Jimin terlihat nyaris kehilangan kontrol masing-masing. Yoongi membatu di tempatnya; tatapannya tidak fokus dan senyum andalannya keluar lagi—terlihat begitu imut kalau saja dia tidak sedang memereteli aksesoris penghangatnya satu per satu. Hoseok sudah berdiri dan mungkin mempermalukan diri sendiri (lagi) di hadapan gadis di seberang sana karena mulutnya terbuka dan tangannya terulur seolah ingin menggapai salah satu Lele. Dan Jimin—o, Jimin, kasihan sekali dia karena kekehan gila setengah bodohnya berderai di udara keras-keras.

Baru saja Taehyung hendak memberikan pertolongan pertama, tapi Jungkook yang sudah kembali pada keadaan mental lebih waras, mempunyai ide genius. Dia menahan tangan sepupunya, menangkap imaji konyol tiga seniornya, sebelum memperbolehkan si Beater Hufflepuff yang tak kuasa menahan gelak melanjutkan aksi. Yah, lumayan—bahan ancaman sewaktu-waktu. Apalagi ketiganya punya tedensi mengetahui rahasia-rahasia terdalam anggota yang lain.

Perlu total tiga pukulan, dua tendangan, satu tarikan, sebelum Yoongi, Hoseok, juga Jimin berhasil kembali ke duduknya dengan wajah memerah hingga telinga dan leher.

“Bertaruh tiga Galleon; kalau aku memberikan foto tadi ke Jiwoo, maka Hoseok, Jimin dan Yoongi bakal berakhir di headline kolom olahraga Daily Prophet,” bisik Jungkook pada Taehyung dan Namjoon kala si Presiden Kelas Musik Muggle, sang Kapten Quidditch Hufflepuff dan si Legilemens masih merenungi nasib buruk mereka.

“Tambah tiga Galleon lagi kalau kau betul-betul memberikannya ke Jiwoo.”

Deal.”

“Dan tiga Galleon lagi karena Yoongi akan memantrai Jungkook sepanjang tahun atas kontribusi baiknya.” Kali ini Namjoon hanya melirik ke Taehyung, mengedipkan sebelah mata—membuat Jungkook sadar dia baru saja tenggelam dalam kubangan adrenalin; masuk terlalu jauh dalam kesenangan memikirkan konsekuensi dan risiko. Ha, tipikal.

Three Galleons and twenty Sickles?” Taehyung menyeringai jahil.

Sang Prefek Ravenclaw mengangguk setuju. “Deal.

Jeon Jungkook mengumpat kasar dalam Bahasa Korea; memancing Namjoon tertawa terbahak-bahak dan Taehyung menyodok perutnya dengan siku.

Mereka memisahkan diri dari bisikan-bisikan gelap itu tepat kala Yoongi—yang tidak tahu kekelaman masa depannya—bertanya pada Taehyung apakah dia melewatkan sesuatu. Si termuda Hufflepuff toh tidak perlu dijawab lantaran sang komentator kembali berkata dengan keras bahwa yang selanjutnya masuk adalah maskot tim Cina.

Dari omnicular masing-masing, keenamnya dapat mengamati seorang penyihir bertubuh kurus memasuki lapangan Quidditch membawa seekor burung kecil mirip bangau berwarna hitam, berparuh putih, yang hanya memiliki satu kaki. Awalnya Jimin mengira bulu di atas kepalanya berwarna oranye, persis rambut Hoseok dan nyaris menggoda kapten timnya lagi. Namun begitu burung itu bergerak melebarkan sayapnya, Jimin baru sadar kalau jambulnya bukan bulu; melainkan api.

“Bifang!” Taehyung berseru penuh semangat hingga terlonjak dari tempat duduknya. Dia menyenderkan tubuh hanya untuk mengulurkan tangan dan mencolek Namjoon dari belakang punggung Jungkook. “Joon, that’s a Bifang, right?”

Namjoon mengulas senyum sederhana dan menjawab, “Aku hanya pernah membacanya, jadi mungkin? Kurasa kau lebih ahli di bidang ini, Tae.” Pemuda itu membalas tepukan Taehyung; membuat si Hufflepuff merasa jauh lebih senang.

Bifang yang dimaksud sedang mengangkasa sekarang. Di bawah, pawangnya mengucapkan suatu mantra (Yoongi dan Namjoon kompak menggumam, “Fiendfyre.”) yang membentuk gelombang api besar, kemudian bertransformasi menjadi bentuk berbagai hewan sihir. Hebatnya, burung kecil itu mampu melahap semua kobarannya hingga jambul elemen piromaniak di kepalanya membesar dan terlihat lebih bertenaga.

Aih, satu-satunya penyihir yang merasa pertunjukan maskot Cina lebih menarik dibanding milik Moldova hanyalah Taehyung Kim.

“Sekarang, para penonton yang berbahagia, mari kita beri teriakan paling menggelegar untuk Tim Quidditch Nasional Moldova: Keeper Povpo! Chaser Postolachi! Ivanov! Tcaci! Beater Bors dan Vicol! Dan Seeker sekaligus Kapten Tim Ivanov!”

Sekali lagi, keenamnya perlu berdiri karena semua orang telah bangkit dan keriuhan muncul untuk kesekian kalinya. Lalu, berbeda dengan seluruh pertandingan Quidditch yang pernah Hoseok lihat sebelum Piala Dunia kali ini, para pemain memasuki lapangan bersama-sama dan membuat gemuruh luar biasa dari para pendukung Moldova. Mereka mengenakan jubah biru gelap—jauh lebih tua dari biru Ravenclaw, namun lebih terang dari spektrum tengah malam—dan melesat mengitari stadium. Dia, Jimin dan Taehyung ikut berteriak, meniup vuvuzela mereka, terbawa arus dan meneriakkan nama para pemain dengan lantang.

“Dan Tim Quidditch Nasional Cina: Keeper Zhou! Chaser sekaligus Kapten Tim Wu! Chaser Zhang! Chaser Lu! Beater Su dan Zhu! Dan Seeker Wang!”

Dari ujung lapangan yang lain, anggota Tim Quidditch Nasional China masuk dan menimbulkan keriuhan baru dari ensembel lagu-lagu oriental milik para suporter. Kini, giliran Jungkook, Namjoon dan Yoongi yang heboh sendiri; mengangkat berbagai perlengkapan mereka berikut tongkat sihir yang mengeluarkan bintang warna merah.

Sang komentator menyuruh para pendukung untuk diam ketika kedua kapten tim mendarat di dan saling berhadapan. Seorang wasit pria berjalan masuk ke lapangan (dia adalah seorang pria bertubuh jangkung dengan postur bungkuk namun wajah yang menyenangkan), meletakkan sapu dan peti jinjingannya, lantas menyuruh dan kedua kapten bersalaman. Bola-bola dilepaskan; Snitch emas terbang—Jungkook bahkan tak bisa melihat ke mana perginya—Bludger mengangkasa—Jimin dan Taehyung saling pandang—kemudian bersama bersuitnya peluit perak milik sang wasit, Quaffle pun dilempar. Kedua kapten melesat kembali ke udara, diikuti jeritan sang komentator berapi-api:

“DENGAN INI, PIALA DUNIA QUIDDITCH KE-246: MOLDOVA MELAWAN CINA, DINYATAKAN RESMI DIMULAI!”

A/N:

  1. 害人之心不可有 (hài rén zhī xīn bù kě yǒu): one shouldn’t have the heart to harm others.
  2. Semua yang ada di sini kecuali rangkaian acara (yang mana ciptaan saya HAHA) adalah real. 2010 Quidditch Cup itu emang China vs Moldova (dan alasan kenapa saya cuma nulis depannya adalah karena canonly, pertandingan ini bertahan selama tiga hari), Bifang dan Lele adalah magical creature dari negara representatifnya sendiri, teknik-teknik Quidditch-nya juga ada betulan, hehehe.
  3. Foreword is an actual quote from Oliver Wood.
  4. Lizaaa, makasih udah bikinin poster waktu itu! Bakal kupake mulai chapter depan a.k.a setelah mereka mulai masuk sekolah. Thanks a lot, Deary!
  5. Thanks for reading! ❤
Advertisements

2 thoughts on “Tickling Dragon Under the Illuminated Dawn: 2010 Quidditch World Cup

  1. OH MY JUNGKOOK dis is actually so fascinating ahaahah sesuai ekspektasi selalu kalo buatan kak evin mah ((bah))

    dan aku berasa baca series lain dari tulisan mba jk rowling untuk yg kedua kalinya kkk bukan gombal kak, bukan juga nyama-nyamain. malah emang pujian. asik aja gitu bayangin penontonnya pada terbang ke sana kemari. mana gitu pas dibilang soal penyihir rusia aku malah gigit jari, kok ya kebayang mas malfoy /apanya HAHAH

    semua kelakuan anak bi-ti-es yang keterlaluan lebay-nya bikin aku pengen nemp lok pipi mereka satu-satu (pake bibir, sih -3-)9

    o iya kak ada satu kalimat yang menurut aku kurang kata ‘dari’, jadi rada rancu, tapi aku lupa di bagian mana XD (akhirnya ada perkembangan ngereview pake ‘kritik’ bahahah) dan … aku ga masalah kapan pun kak evin mau masang moodboard-nya. pas seri terakhir juga gapapa :)))) soalnya aku mikir itu jelek :’

    semangat kak nulisnya! and, happy independence day ❤ /dah lewat

    Like

    1. haiii, liza!

      hahahaha bisa aja kamu. tbh ini not my best, liz, sebenere tp syukurlah kalau bisa kamu nikmati :)) WGWG anak bangtan mah emang lebay lebay ketemu segala sesuatu juga teriak-teriak sendiri, jadi based on reality aja deh ini bikinnya hahahaha. makasih banyakkk liz koreksiannya nanti bakal aku cari. terus tenang aja, moodboard-nya bakal terpakai chapter depan kok! makasih liza! kamu semangat teruuuuus ❤ ❤

      Like

Tell Me Something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s