#46 – Classic Things that We Like

You got that James Dean daydream look in your eye.

Prompt #46: Pebbles

sneak out.

Pukul setengah satu malam. Uap tak lagi berevaporasi dari cangkir teh hijau Violetta dan di mejanya berserakan buku-buku desain, kacamata, serta sebuah ponsel yang menampilkan pesan: “Get ready. I’ll be there in ten!”

Nyaris sebulan lamanya sang wanita tak melihat fenomena ini akibat kesibukan yang begitu menyita perhatian dan harus ia akui, ia sudah menunggunya.

Jadi Violetta melupakan berbagai bahan yang harus dikumpulkan demi proposal tesisnya dan berlari menuju lemari. Sebuah turtleneck berwarna hijau toska dipadukannya dengan celana jeans hitam dan mantel krem pucat. Ia mematut diri di depan kaca, memberi sedikit sentuhan pada wajahnya dengan bedak tipis dan lipgloss raspberi, kemudian tepat ketika ia selesai dengan seluruh persiapannya, kaca pada balkon kamarnya mulai bergemeletak.

Ia hanya sempat menyambar ponsel serta dompet, kemudian melangkah keluar dan melongokkan tubuh di balkon. Bersandar pada pagar, Kim Taehyung melempar-lempar kerikil dalam genggamannya sambil tersenyum. Dia adalah si orang gila yang sering menculik Violetta pergi pada jam-jam sinting menggunakan mobil tanpa lampu; sebab jika kakak laki-laki si wanita tahu adik kecilnya pergi tengah malam, maka Taehyung bisa tinggal nama saja.

Si wanita melompat ke atap, kemudian menjejak pada kusen jendela begitu hati-hati agar tak membuat suara sekecil apa pun. Ia beruntung karena lantai dua di rumahnya tak begitu tinggi; Mom dan Dad mungkin punya firasat bahwa putra sulung mereka akan berubah super protektif begitu keduanya meninggal. Penglihatan bagus sebab kakaknya masih segalak itu. Meski umurnya sudah 22 sekarang? Ya, masih.

“Kapan kau bisa keluar dengan cara yang lebih masuk akal?” Adalah sapaan pertama Taehyung ketika Violetta sudah menjejak di atas tanah. Si pria menahan siku Violetta ketika ia kehilangan keseimbangan, memeluknya ringan begitu keduanya sudah berdiri tegak. “Dan, tentu, membuatku menjemputmu dengan cara yang lebih beradab juga.”

Violetta tertawa tanpa suara, meletakkan telunjuknya di bibir, lantas mengisyarati Taehyung untuk mulai berjalan ke mobil—si SUV silver terparkir sekitar dua rumah sebelum milik keluarga sang wanita. “Kau harus menikahiku dulu, mungkin, lalu kita bebas melakukan apa pun, kapan pun, di mana pun.”

“Tawaran menarik.” Taehyung nyengir. Bias neon jalan membuat wajahnya lebih bersinar. Dia membuka kunci pada tempat duduk penumpang dengan cara manual, lalu membiarkan Violetta masuk terlebih dahulu.

Violetta mengedikkan bahu saat ia sudah duduk dan memasang sabuk pengaman, membalas sebelum Taehyung sempat menutup pintu. “Itu pun kalau kau dapat restu.”

“O, don’t worry. I will,” balas Taehyung, mencubit pipi kekasihnya penuh sayang.

cart ride.

Sekitar lima blok dari perumahan Violetta, berdiri sebuah supermarket dua puluh empat jam. Violetta yang pertama kali mengenalkan kebiasaan ini karena ia sudah melakukannya—keluar rumah diam-diam untuk mencari kudapan di jam nyaris subuh—bahkan sebelum mengenal nama Taehyung.

Kejadian itu bisa dihitung sebagai kencan ketiga. Kalau tidak salah, Taehyung berkata ia berada di sekitar perumahan Violetta sehabis mengantar salah seorang temannya yang mabuk, tapi malas pulang, lalu kelaparan. Ia menelepon Violetta, bertanya restoran mana yang enak dekat-dekat sana, tapi Violetta mengusulkan hal yang lebih baik.

Mereka menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan hari itu dan memutuskan bahwa—hey, ini bisa jadi ritual bertemu yang bagus ke depannya. Apalagi karena pada waktu-waktu seperti itu, supermarket berada dalam keadaan paling sepi sepanjang hari dan mereka nyaris bisa melakukan apa pun tanpa terdeteksi.

Seperti … bertransformasi menjadi anak-anak.

Bukan hal aneh menemui Violetta berada di dalam troli belanja dengan senyum sumringah. Bahagia sekali rasanya mengulang rutinitas. Dulu Taehyung sempat mencoba, namun kakinya langsung kram dalam waktu tiga menit dan ia kapok. Iya, mulai saat itu, Taehyung cuma bertugas mendorong sambil bersenandung, melewati rak-rak berisi berbagai macam kebutuhan rumah tangga dengan hati ringan.

Mereka tengah berada di barisan kacang serta keripik saat ini. Dengan mudah, Taehyung mengambil sebungkus kacang madu pada rak paling atas, lalu memberikannya pada Violetta—yang langsung membuka bungkusnya dan membenarkan posisi hingga ia mampu menyuapi si pria menggunakan gaya pesawat terbang: “Here comes the plane, Taetae! Say aaaa~”

Memalukan.

(Tapi toh keduanya senang—itulah yang terpenting.)

“Hm—“ Taehyung bergumam sambil mengunyah, melanjutkan langkah dalam ritme lambat dan masih memperhatikan sekitar kalau-kalau ada makanan unik yang bisa mereka coba, “—kira-kira apa lagi yang kau butuhkan, V?” Dia bertanya kemudian.

“Apa yang aku butuhkan?”

“Mm-hm?”

Violetta mengulum senyum jahil. “Kim Taehyung.”

Taehyung tertawa dan langsung mengalihkan pandangannya dari barisan biskuit untuk memberikan sebuah ekspresi gemas. Ia maju dan nyaris menggigit hidung Violetta di tempat kalau si wanita tidak mendorong wajahnya menjauh.

Tentu saja ekspresinya berubah cemberut karena ditolak, lalu bertutur dengan sengit, “Awas saja kau nanti.”

Violetta terkekeh dan menjejali Taehyung dengan dua butir kacang lagi.

toy racks.

Setelah berputar nyaris lima belas menit ke seluruh bagian supermarket, bicara mengenai apa saja—bahkan dekorasi serta furnitur yang cocok dengan desain Taehyung kalau mereka punya rumah nanti—Taehyung tidak sengaja berbelok ke rak yang memajang berbagai macam mainan. Berstatus sebagai pria 22 tahun tidak mampu meredam pancaran kebahagiaan yang muncul di matanya. Ia menepikan keranjang yang kini berisi kekasihnya, roti tawar, selai cokelat, empat kaleng soda, dua tabung keripik kentang, bungkus kacang yang sudah habis dan kebutuhan wanita punya Violetta pada banjaran fidget spinner.

“Kau tahu ini apa?” tanyanya sambil mengamati mainan tersebut—iya, di dalam kardus, tapi Taehyung menyukai desain yang ditawarkan pada bungkusnya. Kalau saja ia masih boleh ikut pertandingan-pertandingan fidget spinner melawan anak tetangga ….

Violetta mengernyitkan alis kemudian menggeleng.

Taehyung mengerutkan bibirnya. “Hih, dasar tua.”

Dengusan berkumandang di udara dan Violetta menusuk dada pria tersebut dengan salah satu tabung keripik. “Lihat siapa yang bicara.” Tapi ekspresi cemberutnya dengan cepat berubah menjadi rasa penasaran. “Kita tidak punya mainan semacam itu di zaman kita ‘kan, Tae? Apa gunanya?”

Biner sewarna kopi milik si pria bergeser dari fidget spinner menuju wajah kekasihnya. “Ini namanya fidget spinner. Sedang populer di kalangan anak SD sampai SMP zaman sekarang,ujarnya menyerahkan si mainan pada sang kekasih. “Aku akan membelikannya untuk adikku. Menurutmu mana yang lebih bagus? Yang merah atau yang hitam?”

“Mmm … merah?”

Dan Taehyung menukar pilihannya dengan apa yang menurut Violetta lebih bagus.

Si pria pun nyaris berjalan lagi dan senandungnya nyaris mengudara lagi kalau Violetta tidak memotong dengan, “By the way, Tae ….”

“Yup?”

“Kakiku kesemutan.”

Di sela ejekan dan tawanya, Taehyung terpaksa mengangkat si wanita dari dalam troli, membantunya berdiri, dan menjadi tumpuannya untuk meluruskan kaki—itu sambil menendang-nendang yang bersangkutan sedikit. Violetta mendesis kesal nyaris menubruk rak berisi Barbie lantaran melepaskan pegangannya dari Taehyung.

under the stars which are duller than those i see in your eyes.

Selepas membayar seluruh barang di kasir, Violetta yang manja menawarkan sebuah kesepakatan. Dia akan membawa seluruh belanjaan mereka asal Taehyung menggendongnya di punggung. Sang kekasih menerimanya bukan karena ia bodoh—pria itu tahu kesepakatan Violetta bagaimanapun lose-lose—tapi karena ia ingin dekat dengan wanitanya. Jadi, dengan senang hati ia membiarkan Violetta naik ke punggungnya sementara suaranya yang cempreng berderai di udara.

Ouch, kupingku, aduh.” Taehyung suka sekali menggoda suara Violetta yang hancur, mentang-mentang miliknya mirip malaikat. “V, berhenti sebelum kau membuat seseorang terlahir prematur.”

Violetta langsung menggigit kulit kepala Taehyung—tangannya boleh saja penuh, tapi jangan remehkan kemampuan wanita itu membela diri!—dan teriakan pria itu memancing lolongan anjing di ujung jalan. “Lihat suara siapa yang lebih mengerikan!” seru Violetta puas.

Sedih bagaimana Taehyung tidak bisa menyeka air mata yang muncul.

Bunyi alarm mobil di lapangan parkir yang kosong menggema keras. Violetta meletakan tiga kantong belanja mereka di atap mobil, lalu membuka pintu penumpang dan membiarkan Taehyung menurunkannya di bangku. Si pria berputar kemudian, memerangkap Violetta di kursi dengan tangannya dan memandangi wanita itu lekat-lekat.

Iya, Violetta menikmati wajah Taehyung di hadapannya. Ia meresapi pemandangan itu sepenuh hati, merasa pusing akan luapan rasa yang meletup dalam perutnya. Ia merekam mata Taehyung yang bersinar, hidungnya yang mancung, noda kecil di cupingnya, bibirnya yang kemerahan, kulitnya yang bercahaya terbias sinar purnama.

Dan ketika Taehyung menyorongkan tubuh, Violetta sudah menutup mata—tapi apa yang ditunggunya tak terjadi. Alih-alih, hanya terasa napas Taehyung di pipinya dan membuat wanita itu merengut. Sepasang maniknya kembali membuka; menyambut hamparan konstelasi yang lebih indah dari jalur susu.

Taehyung menyelipkan rambut Violetta di balik telinganya ketika ia berkata, “Let’s just say it for fun. If … I want to take you out somewhere until the dawn, will you let me do it?”

Ada jeda yang teregang karena Violetta tak menjawab. Taehyung menunggu dengan sabar. Ia tahu wanitanya begitu polos dan tak ingin melukai siapa pun—di kepalanya merekat sosok sang kakak dan kepercayaan yang diberikan padanya. Wanita itu tidak ingin menghianati lebih daripada ini.

Tapi Taehyung berkata lagi; hidung mereka kini bertemu dan si pria menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan hingga Violetta tak kuasa terkikik akan sensasi lembutnya. “If … I want to forget all those blueprints. And I want you to forget your thesis and your brother. And if I want you to just look at me like this—” Taehyung mundur. Kurvanya begitu cantik—begitu menawan. “—will you do it?”

Violetta melingkarkan lengannya pada leher Taehyung dan menarik pria itu mendekat. Ia membiarkan jemarinya menyapu poni yang menutupi kening si pria, lalu menanamkan satu kecupan di sana selembut salju pertama musim dingin.

I will, you know I willbut not today. Not now,” jawab sang wanita lewat seluruh kontrol diri dan pertimbangan yang ia miliki. Sentuhannya turun ke pipi pria itu dan mengusapnya menggunakan ibu jari. “Let’s just go back and eat all those foods like we always do, yeah?”

Ada sedikit kekecewaan yang muncul—wajar, ‘kan? Taehyung hanya ingin menghabiskan waktu dengan Violetta setelah sebulan yang sibuk, tapi wanita itu punya banyak pertimbangan. Ya, ia memang menghargai keputusan kekasihnya; tak ingin menjadi pihak yang egois dan memaksakan kehendak, tapi tetap saja ada perasaan tak adil.

Dan Violetta terlalu pintar membaca perasaannya.

Wanita itu memajukan tubuh, menahan kepala Taehyung dekat dengannya dan memberikan satu kecupan lagi—kali ini di bibir. Ciuman itu bertahan lama, lambat dan tak menuntut. Violetta menghapus gundah dalam hati Taehyung dengan cintanya, sementara Taehyung mencoba membuktikan bahwa ia tak akan pernah menyakiti wanita itu, apa pun keadaannya.

“Kita masih punya banyak waktu, ‘kan, Taehyung?” tanya Violetta ketika mereka saling melepaskan. Taehyung berdiri di tempatnya, tangannya masih melingkar di pinggang si wanita. “Kita bisa menghabiskan waktu bersama dalam waktu yang lama. Tak perlu terburu-buru.”

Taehyung mengangguk. “Kau benar.” Satu kecupan terakhir di pucuk kepala Violetta. “Ayo kembali dan menghabiskan seluruh kudapan kita di depan rumahmu,” lanjutnya tulus seraya mengedipkan sebelah mata.

Si pria baru saja akan mundur untuk memasukan seluruh belanjaan mereka yang terlupakan di bangku belakang ketika Violetta menahan tangannya. Taehyung menoleh lagi, menjinjing alis bertanya. “I love you, Tae.”

I don’t.”

Violetta memukul lengannya; Taehyung tergelak, lantas mencubit pipi kekasihnya sekali lagi. “Bercanda, Sayang. I love you so so so so so much!

Ya, benar. Ada banyak waktu nanti; ada banyak hal yang bisa mereka kerjakan bersama. Ada banyak masa depan yang telah dirajut dan dijanjikan; seperti produk rumah tangga yang dipakai dan malam-malam yang dilalui.

Taehyung sadar dia bisa menghabiskan waktu bersama Violetta selamanya kalau memang diperlukan.

A/N:

  • maaf ya menuh-menuhin dashboard. saya udah selesai uas dan bosen banget, belum ada kesibukan sampe awal september. jadi… nulis deh he he he.
  • 6/7 failed attempts to make a good fluff out of bangtan. well… sebenernya lebih sih HEHE
  • another rip off from bro code? yes. kalau ada yang inget, ini sebenere cerita tae sama mantannya dia ga bisa move-on itu.
  • oiya ini kan saya bikin emang terinspirasi dari style, terus saya setel dong buat nemenin. eh terus… sepertinya semesta berkonspirasi karena lagu-lagunya setelah itu (menurut saya) cocok sama fanfic ini, antara lain: with you – lyn, L O V E – michael buble, call me irresponsible – michael buble, say yes – loco ft. punch, night changes – 1d, one call away – charlie puth, versace on the floor – bruno mars, mr. chu – apink. dan ya, itu semua berurutan tanpa ada yang saya skip.
  • last but not least, selamat menjalankan ibadah puasa! 🙂
Advertisements

Leave Your Thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s